Dana Pensiun Angkasa Pura I (DAPENRA)
Nov 2017
Data belum tersedia

 


 Artikel



Investasi DAPENRA
  Selasa, 3 September 2013

INVESTASI DAPENRA

Para Peserta DAPENRA yang budiman…

Pertama sekali kami menyampaikan terimakasih yang mendalam atas segala bentuk dukungan yang telah diberikan oleh para Peserta kepada DAPENRA berupa  saran, kritik ataupun gagasan dari para Peserta. Kesemuanya itu  merupakan hal yang teramat bernilai bagi DAPENRA untuk menuju masa depan yang lebih baik.

Pada kesempatan ini kami ingin berbagi beberapa informasi, terutama informasi yang terkait dengan pengelolaan dana oleh Dana Pensiun Angkasa Pura I (DAPENRA).

Penyampaian informasi ini merupakan bagian dari fungsi sosialisasi  kepada para Peserta.

Pertama, informasi tentang OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Untuk mengawal industri jasa keuangan di Indonesia yang perkembangannya sangat luar biasa dan memiliki peran yang teramat strategis dalam perekonomian Negara,Pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Lembaga ini mulai aktip melaksanakan tugasnya per Januari 2013 ini. Fungsi utama OJK adalah menyelenggarakan pengaturan dan pengawasan terintegrasi atas keseluruhan kegiatan jasa keuangan di Indonesia yang meliputi sektor  perbankan, pasar modal, asuransi, dana pensiun, lembaga pembiayaan dan lembaga keuangan lainnya.

Dengan adanya OJK ini, diharapkan penyelenggaraan jasa keuangan di Indonesia akan semakin berkembang dan terkontrol, sehingga praktik-praktik investasi tak jelas yang  marak akhir-akhir ini dapat diminimisir atau ditiadakan sama sekali demi melindungi masyarakat.

Kedua, informasi tentang pengelolaan dana  oleh DAPENRA.

Salah satu tugas yang diberikan oleh Pendiri kepada DAPENRA adalah mengembangkan dana yang dikelola untuk menjaga Rasio Kecukupan Dana (RKD) = 100% agar Pendiri dapat terus meningkatkan kesejahteraan Peserta.

Berdasarkan Valuasi Aktuaria terakhir yang dilakukan pada penghujung tahun 2012, Bunga Teknis atau target pengembangan dana yang dikelola DAPENRA adalah sebesar 9%.

Artinya, untuk dapat menjaga RKD pada posisi 100% dan mencukupi seluruh biaya operasional yang diperlukan, DAPENRA harus mampu mencapai tingkat pengembangan dana yang dikelola sebesar 9%.

Untuk mencapai tingkat pengembangan dana sebesar 9% tersebut, DAPENRA harus menempatkan dana yang dikelola pada berbagai instrument investasi, baik yang berjangka pendek maupun berjangka menengah dan panjang.  

Instrumen investasi jangka pendek berupa  Deposito  dan  instrumen investasi jangka menengah dan panjang berupa Obligasi, Reksadana, Saham dan penempatan langsung.

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, investasi pada Deposito memberikan imbal hasil rata-rata antara 5.5%-8% per tahun, Obligasi sekitar 7,2% per tahun, Reksadana sebesar 12,2% - 14,8% per tahun dan investasi pada Saham sebesar 19.32% per tahun.

Atas dasar potensi imbal hasil itulah, maka DAPENRA kemudian menempatkan sebagian portofolio investasinya pada Reksadana dan Saham dengan harapan akan dapat memperoleh “return” yang lebih baik dan dapat mencapai target pengembangan dana yang diperlukan.

Pendiri maupun DAPENRA menyadari benar bahwa dalam investasi di pasar modal berlaku adagium “high risk, high return dan low risk, low return”.

Instrument investasi Saham tergolong investasi yang “high risk, high return”, yakni dapat memberikan “return” yang lebih tinggi, namun terkadang dibarengi dengan risiko yang relatip tinggi pula.

Oleh karenanya investasi pada Saham digolongkan kedalam jenis investasi jangka panjang yang hasilnya terkadang tidak dapat dinikmati dalam jangka pendek.

Bertolak dari karakter investasi Saham yang demikian itu, maka untuk menjamin keamanan investasi DAPENRA, arahan Pendiri  mengatur batas maksimum investasi pada portofolio Saham sebesar 50% dari total nilai investasi DAPENRA.

Ketiga, informasi tentang perkembangan pasar modal Indonesia.

Dalam 2 bulan terakhir, pasar modal di Indonesia diwarnai oleh penurunan IHSG (Indek Harga Saham Gabungan) yang cukup signifikan yang dilatarbelakangi oleh turunnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar, defisit neraca perdagangan Indonesia serta penarikan dana oleh investor asing dari pasar modal Indonesia dengan berbagai alasan. Kondisi tersebut  telah memukul hampir seluruh investor Saham, Reksadana dan Obligasi di Indonesia, termasuk Dana Pensiun.  

Namun, gejolak di pasar modal Indonesia ini oleh banyak analis dinilai tidak terlalu mengkhawatirkan, mengingat bahwa penurunan harga instrument investasi di pasar modal tersebut tidak diakibatkan oleh faktor fundamental emiten (perusahaan yang tercatat di bursa), namun lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar akibat kekhawatiran yang berlebihan terhadap penurunan nilai tukar Rupiah.

Sejauh ini perekonomian Indonesia masih  menunjukkan tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi, sebesar 6% dengan tingkat Inflasi masih 1 digit dan cadangan Devisa Indonesia masih di atas 90 miliar US Dollar. Semua ini  menjadi modal penting bagi Pemerintah untuk menjaga stabilitas perekonomian Indonesia, sekaligus menjaring investor asing untuk tetap menanamkan modalnya di Indonesia.

Kebijakan intervensi pasar yang dilakukan Bank Indonesia tanggal 15 Agustus lalu, terbukti telah mampu meningkatkan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar dan menggeliatkan kembali pasar modal Indonesia yang ditandai oleh mulai naiknya harga beberapa Saham.

Diprediksi, mulai bulan September dan Oktober 2013, pasar modal Indonesia sudah akan mulai “rebound” dan menjadi kesempatan bagi para investor, termasuk Dana Pensiun untuk menata kembali struktur investasinya dalam rangka mendapatkan hasil investasi yang optimum.

 

 

Jakarta, 2 September 2013











Artikel lainnya :

  .: MENJALANI MASA TUA DENGAN TETAP SEHAT & SEMANGAT

  .: TERIMA KASIH

  .: I DID IT MY WAY

  .: 7 Kiat Menjalani Karir Kedua

  .: MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN

  .: Hidup Manusia Seperti Sebuah Buku

  .: Do The Best and God Will Do The Rest

  .: Sering Sakit-sakitan Pertanda Tubuh Banyak Radikal Bebas

  .: Penyesuaian Diri Terhadap Ambang Masa Pensiun

  .: 5 Tanda Serangan Jantung

  .: Sel Penumpas Kanker

  .: Manfaat Tempe

  .: Terapi Air Putih

  .: Jalan Keluar Dari Permasalahan

  .: Jalan Menuju Usia 100 Tahun

  .: Jadi Pengusaha Setelah Pensiun, Kenapa Tidak?

  .: Penyakit Kanker Sudah Tidak Berbahaya Lagi

  .: Seratus dan Satu (bukan 101) Keinginan

  .: Pertolongan Pertama Pada Penderita Stroke

  .: 7 Tips Mengelola Kebosanan di Tempat Kerja